Kehidupan Kerajaan Majapahit

Aspek kehidupan di kerajaan Majapahit juga menarik untuk diketahui. Bagaimana kehidupan di kerajaan terbesar Indonesia dalam banyak hal? Berikut penjelasannya:

Aspek kehidupan Kerajaan Majapahit

a.Kehidupan politik kerajaan Majapahit
Kehidupan politik di kerajaan Majapahit penuh dengan tikungan dalam pemberontakan. Pemberontakan dimulai dengan Raden Wijaya yang menjadi raja. Banyak pemberontakan dilakukan oleh Ronggolawe, Sora dan Nambi. Pemberontakan yang terjadi seringkali tidak lebih dari menghancurkan Raden Wijaya.

Meski begitu, Raden Wijaya masih bisa mengatasinya karena kecerdikannya. Pemerintahan Raden Wijaya berakhir pada 1309, karena Raden Wijaya meninggal. Pewaris berikutnya adalah Jayanegara, yang tidak lain adalah putra Raden Wijaya. Saat itu, usianya baru 15 tahun.

Pada masa pemerintahan Jayanegara ada juga banyak pemberontakan yang terkait dengan kapasitas minimal Jayanegara untuk memerintah kerajaan. Hingga akhirnya Jayanegara dijuluki “Kala Jamet” yang artinya lemah dan jahat. Selain itu, pemberontakan Ra Kuti adalah pemberontakan paling berbahaya yang hampir membuatnya jatuh.

Di sisi lain, Gajah Mada juga menyelamatkannya dan membawanya ke dokter di desa Badaran. Namun, ternyata dokter punya dendam yang akhirnya membunuh Jayanegara. Gajah Mada juga membalas dengan membunuh dokter.

Pemerintahan dilanjutkan oleh adik lelakinya, Gayatri, yang memiliki gelar Tri Buana Tunggadewi. Selama masa pemerintahannya juga ada banyak pemberontakan, tetapi mereka kembali dihancurkan oleh Gajah Mada. Gajah Mada juga disebut sebagai penguasa kerajaan.

Kemudian, dia bersumpah sumpah dikenal sebagai sumpah palapa. Tak lama kemudian, sang ratu meninggal. Kekuasaannya hanya bertahan pada tahun 1328-1350 M. Ia kemudian digantikan oleh Hayam Wuruk hingga ia mencapai puncak keemasannya.

b. Kehidupan ekonomi
Lokasi strategis Kerajaan Majapahit, yang terletak di dataran, dan berbagai pelabuhan membuat perekonomian tumbuh pesat. Sebagian besar penduduk adalah pedagang, ada juga emas, perak dan pengrajin lainnya.

Barang ekspor riil meliputi lada, garam, kain, dan burung beo. Kerajaan Majapahit juga telah menciptakan mata uang dengan campuran perak, timah putih, timah hitam dan tembaga. Selain itu, berbagai infrastruktur juga telah dibangun.

c. Kehidupan budaya
Kehidupan budaya nyata sangat maju pada saat itu. Ini karena setiap tahun berbagai perayaan keagamaan dan perayaan tradisional lainnya dirayakan yang disambut oleh masyarakat Majapahit.

Raja dari kerajaan Majapahit
Kerajaan Majapahit
Tentu saja kerajaan Majapahit memiliki beberapa raja terkenal, beberapa di antaranya adalah:

Raden Wijaya (1293-1309 M)
Jayanegara (1309-1328 AD)
Tribuana Tunggadewi (1328-1350 AD)
Hayam Wuruk (1350-1389 M)
Kusumawardani Wikramawardhana (1389-1399 AD)
Suhita (1399-1429 M)
Bhre Tumapel atau Kertawijaya (1447-1451 AD)
Rajasawardhana (1451-1453 CE)
Purwawisesa (1456-1466 M)
Kertabumi (1466-1478 M)
Kemuliaan dan keruntuhan kerajaan Majapahit
Kerajaan Majapahit
Kerajaan Majapahit mencapai puncak keemasannya pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, cicit Raden Wijaya. Di usia muda, Hayam Wuruk dinobatkan sebagai raja Kerajaan Majapahit.

Meskipun usianya masih muda, Hayam Wuruk adalah sosok pekerja keras dan gigih. Bersama dengan Gajah Mada, Hayam Wuruk berhasil menaklukkan hampir seluruh kepulauan dan menjadikan Majapahit sebagai kerajaan terbesar pada masa itu. Juga untuk memperluas wilayahnya di Thailand, Singapura dan Malaysia.

Namun sejak kematian Gajah Mada dan Hayam Wuruk, kerajaan Majapahit telah mengalami penurunan drastis. Seiring dengan pengaruh Islam yang telah menyebar begitu banyak sehingga banyak serangan oleh kerajaan Islam yang baru menyebabkan runtuhnya Kerajaan Majapahit.

Sisa-sisa kerajaan Majapahit
Kerajaan Majapahit
Kerajaan Majapahit, yang telah lama bertahan dan menikmati banyak kejayaan, tentu memiliki peninggalannya. Beberapa warisan Kerajaan Majapahit meliputi:

1. Candi Tikus
Seperti namanya, candi ini ketika ditemukan ada banyak sarang tikus liar di dalamnya. Kuil ini terletak di situs arkeologi lingkungan. Dengan kata lain, kita dapat menemukannya di desa jambu mete, di desa Bejijong, di kabupaten Trowulan, di Mojokerto, Jawa Timur.

2. Candi Brahu
Sama seperti Candi Tikus, candi Brahu juga ditemukan di situs arkeolog Trowulan. Candi ini pada masa pemerintahan Majapahit bekerja untuk membakar mayat raja. Bangunan ini dibangun oleh Sendok Mpu pada waktu itu.

3. Porta Bajang Ratu
Bangunan gerbang Majapahit satu-satunya dan bervariasi terletak di desa Temon, di distrik Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur. Pintu ini dibangun sekitar abad ke-14 Masehi

Gerbang ini secara substansial seperti yang disebutkan dalam buku Negarakertagama. Bahwa bangunan ini berfungsi sebagai pintu masuk.

Sumber : rumusguru