Pentingnya Belajar Tauhid

bankjabar.co.id – Tauhid adalah sesuatu yang kita kenal. Namun, tidak berbahaya untuk mengingat kembali beberapa kebajikannya. Karena ini dapat memperkuat kepercayaan diri kita atau membatasi tujuan tindakan kita yang salah. Karena pelupaan masalah tauhid mengarah pada kehancuran dunia dan seterusnya.

Tujuan menciptakan makhluk adalah untuk roh

Allah Ta’ala berkata: “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia, tetapi mereka menyembahku.” (Adz Dzariyaat: 56). Imam Ibn Kathir rohimahulloh berkata, inilah tujuannya, yang saya lakukan adalah memerintahkan saya untuk menyembah Saya, bukan karena saya membutuhkannya (Tafsir Al Qur’anul ad Adzhim, Tafsir surat Adz Dzariyaat). Arti ibadah dalam ayat ini berarti bahwa saya dimonoteisasi, sebagaimana ditafsirkan oleh para sarjana Salaf.

Tujuan dari misi para rasul adalah untuk berkhotbah kepada Tauhid

Allah Ta’ala berkata: “Untuk setiap umat, kami mengirim seorang rasul (mengundang Allah) untuk menyembah Allah dan meninggalkan Thoghut” (An Nahl: 36). Thoghut adalah korban selain Allah. Syaikh Seperti yang Sa’di katakan, Allah Ta’ala menyatakan bahwa umatnya ditahan terhadap semua orang, dan tidak ada yang masa lalu atau yang terakhir kecuali Allah mengirim rasul kepada orang-orang. Dan semua rasul sepakat untuk meminta dakwah dan agama, yang hanya menyembah Allah, bahwa tidak boleh ada sekutu baginya (Taisir Karimirrohman, Tafsir Surat an Nahl). Menyembah Allah dan mengingkari Thogut adalah inti dari makna Tauhid.

Tauhid adalah komitmen pertama dan terakhir

Rasul memerintahkan para delegasi untuk berkhotbah di depan yang lain untuk melakukan monoteisme. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi tahu Mu’adz’m Jabal radhiyallahu Ta’ala a anhu:’ buat acara yang mengejar penjahat pertama demi kehormatan Allah ‘(History of Bukhori and Muslim). Nabi juga berkata: “Siapa pun yang memiliki perkataan terakhir, Laa ilaaha illalloh, pasti akan pergi ke surga”. (Kisah Abu Dawud, Ahmad dan hakim dijalankan oleh Al Albani di Irwa’ul Gholil).

Tauhid adalah komitmen yang paling meyakinkan

Allah berfirman: “Sesungguhnya, Allah tidak mengampuni dosa Syirik, dan Allah mengampuni dosa-dosa lain dari mereka untuk yang Dia inginkan.” (A Nisa: 116). Jadi syirik ini menjadi larangan terbesar. Karena Syirik adalah larangan terbesar, musuh adalah monoteisme, yang merupakan kewajiban terbesar. Tuhan menyebutkan kewajiban ini sehubungan dengan kewajiban lain yang harus dipenuhi oleh pelayan. Allah Ta’ala berkata: “Sembahlah Allah dan jangan mengaitkannya dengan apa pun dan berbuat baik kepada kedua orang tua.” (A Nisaa ‘: 36)

Kewajiban ini lebih ketat dari semua kewajiban, bahkan lebih dari pelayanan kepada orang tua. Jika orang tua memaksa anak-anak mereka untuk melarikan diri, mereka seharusnya tidak dipatuhi. Allah berfirman: “Dan jika kedua (orang tua) memaksamu untuk terhubung dengan sesuatu yang tidak kamu ketahui, jangan ikuti mereka …” (Luqman: 15)

Hati yang menonjol adalah hati yang disebut Biduhid

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:’ Saya tahu bahwa ada sepotong daging di dalam tubuh jika itu baik, seluruh tubuh itu baik untuk mengetahui bahwa itu adalah hati … ‘(Sejarah Bukhori dan Muslim). Allah Ta’ala berkata: “Hari ketika kekayaan dan keturunan tidak lagi berguna kecuali bagi mereka yang berhadapan dengan Allah dengan hati yang saliim (selamat)” (Ash Syu’araa: 88-89). Imam Ibn Kathir berkata rohimahulloh, yaitu hati, dosa dan Kesyirikan selamat (Tafsir Al Qur’anul ad Adzhim, surat Tafsir Asy Syu’araa). Orang yang ingin memiliki hati yang jernih harus memahami monoteisme dengan benar.

Tauhid adalah hak Allah yang harus diselesaikan hamba

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan: “Hak Allah yang harus memuaskan para pelayan adalah bahwa mereka menyembahnya dan tidak mengaitkannya dengan apa pun …” (Sejarah Bukhori dan Muslim). Untuk menyembah Allah dan tidak mengasosiasikannya adalah dengan menyembah Allah dalam ibadah. Tidak diperbolehkan untuk mengaitkan Tuhan dengan sesuatu dalam ibadah, jadi Anda harus menyucikan diri Anda dari tunduk kepada ibadah. Seseorang yang tidak menarik diri dari kekuatan belum diindikasikan sebagai orang yang Allah sembah saja (disintesis oleh Fathul Majid).

Ibadah adalah satu-satunya hak Allah dan siapa pun yang menolak untuk menyembah selain Allah, yang telah mengundurkan diri. Orang-orang yang ingin menegakkan keadilan dengan menghormati hak-hak mereka atas pemiliknya harus menjadikan Tauhid semangat perjuangan mereka.

Sumber: https://www.masterpendidikan.com

Baca Artikel Lainnya:

Perkembangan Teknologi Laptop

Cara Membuat Karangan Dengan Mudah